Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 2): [1] Hakekat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme)
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Halo semuanya, selamat datang di blog ku. 👋👋
Perkenalkan, nama saya Muhammad Fikrul Akbar Suwahyu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Pada semester ini, saya menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Kali ini, saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini.
Selamat membaca ya 😁
Judul Artikel :
- Menganalisis religion (agama) dan scientific culture kurikulum pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
- Memahami relevansi integrasi antara agama dan sains dalam pendidikan Islam, khususnya bagaimana sains dan agama dapat saling memperkuat dan menghasilkan nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat.
- Menilai sejauh mana paradigma keagamaan yang harmonis dan budaya saintifik dapat dikembangkan melalui Kurikulum 2013 untuk mempersiapkan generasi masa depan Indonesia.
Penelitian bersifat literatur (kajian pustaka) dengan data primer berupa bacaan dari buku referensi, jurnal, dan sumber daring (website).
Ada juga penggunaan dokumentasi dan observasi dalam pengumpulan data.
Tidak disebutkan adanya pengumpulan data lapangan melalui survei atau wawancara, maupun partisipan konkret seperti guru atau siswa; sehingga penelitian ini lebih bersifat teoretis/deskriptif/kritis.
Integrasi antara sains dan agama dalam konteks pendidikan Islam dinilai relevan dan bermanfaat untuk pengembangan saintifik pendidikan agama Islam ke depan.
Paradigma agama yang harmonis akan memperkuat kreativitas ilmiah, sehingga sains tidak dilepaskan dari nilai keagamaan dan sebaliknya agama tidak anti terhadap sains.
-
Penulis menyebut bahwa paradigma modernis yang hanya mengandalkan rasio (reason) telah gagal (atau tidak mencukupi) untuk kehidupan dunia. Dengan integrasi agama-sains dalam Kurikulum 2013, hal ini bisa diperlakukan sebagai alternatif yang lebih holistik.
-
Di ranah pendidikan, implementasi Kurikulum 2013 dianggap menawarkan pendekatan yang relevan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia tahun 2045.
Agama dan budaya saintifik (scientific culture) harus diintegrasikan dalam pembelajaran Kurikulum 2013 agar pendidikan agama Islam tidak hanya bersifat dogmatis atau ritualistik, tapi juga memberikan ruang bagi kreativitas ilmiah dan perkembangan sains.
Integrasi ini akan menghasilkan nilai-nilai positif bagi masyarakat; agama memerlukan sains dan sebaliknya.
-
Kurikulum 2013 menyediakan peluang dan kerangka untuk integrasi tersebut, terutama jika paradigma keagamaan dijalankan secara harmonis dan tidak kaku.
- Fokus pada integrasi agama dan budaya saintifik yang agak jarang dibahas secara eksplisit dalam studi Kurikulum 2013 sehingga memberikan sumbangan terhadap diskursus pendidikan Islam dan sains.
- Pendekatan teori yang meninjau literatur cukup luas (buku referensi, jurnal, dan website) sehingga dapat memadukan berbagai perspektif akademik.
- Relevan secara kontekstual: membahas Kurikulum 2013 yang yang sedang dan telah diimplementasikan di Indonesia, serta dengan orientasi ke depan (generasi emas 2045), memberikan makna kebijakan dan implikasi pendidikan.
Kekurangan:
- Karena metode utamanya adalah kajian literatur dan observasi dokumenter, tidak ada data empiris lapangan (misalnya wawancara guru, respon siswa, studi kasus sekolah) yang bisa memperkuat klaim-klaimnya. Hal ini membatasi validitas terhadap kondisi nyata di lapangan.
- Observasi yang disebut tidak dijelaskan secara rinci: apa yang diobservasi, siapa, kapan, di mana – sehingga sulit menilai kualitas dan representatifitas observasinya.
- Tidak ada indikator kuantitatif yang menunjukkan seberapa besar pengaruh integrasi agama dan sains dalam Kurikulum 2013 secara nyata (misalnya terhadap prestasi, karakter siswa, kreativitas ilmiah).
- Karena sifatnya konseptual, ada risiko bahwa beberapa argumen menjadi idealis tanpa memperhitungkan hambatan praktis di lapangan (misalnya kapasitas guru, fasilitas, budaya sekolah, tanggapan masyarakat).
Novelty :
Terdapat 3 novelty (kebaruan) dalam penelitian ini:
- Penekanan pada budaya saintifik (scientific culture) bersamaan dengan agama dalam kurikulum, bukan hanya pendekatan saintifik atau nilai-nilai agama saja. Menggabungkan dua domain ini dalam satu kajian secara menyeluruh merupakan hal yang relatif jarang dalam penelitian Kurikulum 2013, terutama dari perspektif pendidikan Islam.
- Memberikan kerangka konseptual bahwa agama tidak perlu menolak sains, dan sebaliknya sains tidak harus dilepaskan dari nilai-nilai agama (menawarkan paradigma yang harmonis).
- Mengaitkan Kurikulum 2013 dengan misi jangka panjang nasional (Generasi Emas 2045), memberikan arah ke depan yang strategis.
Untuk artikel bisa diakses melalui link berikut:
⇒ Click Here ⇐
Demikian sharing saya terkait Novelty dan Analisis Kritis Artikel pada kali ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini 🙏
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar