Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 5): [7] Validitas dan Reliabilitas
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Halo semuanya, selamat datang di blog ku. 👋👋
Perkenalkan, nama saya Muhammad Fikrul Akbar Suwahyu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Pada semester ini, saya menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Kali ini, saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini.
Selamat membaca ya 😁
Judul Artikel:
- Tujuan: Menguji validitas dan reliabilitas instrumen resiliensi akademik untuk siswa SMA. Instrumen tersebut berbentuk kuesioner dengan empat aspek resiliensi akademik, yaitu confidence (percaya diri), control (kendali diri), composure (ketenangan), dan commitment (komitmen akademik). Peneliti ingin memastikan apakah instrumen ini benar-benar mampu mengukur resiliensi akademik secara tepat dengan menggunakan analisis Rasch Model.
- Metode Penelitian: menggunakan kuantitatif non-eksperimen dengan pendekatan deskriptif (238 siswa SMA dari 5 sekolah di Sumatera; 56 pernyataan menggunakan skala Likert (SS, S, TS, STS) yang disusun berdasarkan teori resiliensi akademik Martin & Marsh dan dikonsultasikan dengan dosen ahli BK; menggunakan pendekatan Rasch Model (software Winsteps) untuk menguji kualitas kategori jawaban, kesesuaian item (item fit), struktur dimensi (dimensionality), dan reliabilitas dan pemisahan item/person).
- Hasil: empat pilihan jawabannya valid dan berfungsi baik; dari 56 pernyataan, 55 pernyataan sesuai dengan kriteria namun hanya 1 item yang tidak valid dan dibuang; instrumen terbukti cenderung unidimensional (mengukur satu konstruk yang sama) walaupun awalnya dirancang memiliki empat aspek; reliabilitasnya sangat tinggi (0,99) (instrumen ini konsisten dan mampu membedakan tingkat resiliensi antar siswa).
- Kesimpulan: Inventori resiliensi akademik dengan 55 pernyataan memiliki hasil valid dan reliabel (layak digunakan untuk mengukur tingkat resiliensi akademik siswa SMA).
- Kelebihan dan Kekurangan Penelitian: Kelebihannya yaitu menggunakan Rasch Model (analisis modern dan lebih detail dibanding teknik klasik); Hasil analisis lengkap (tabel dan data fit item dilaporkan dengan jelas); jumlah responden memadai untuk uji validitas; serta berdasarkan teori kuat (Martin & Marsh) dan divalidasi oleh ahli. Sedangkan kekurangannya yaitu sampelnya tidak seimbang (lebih banyak perempuan) yang bisa menimbulkan bias hasil; hanya di Sumatera (sehingga belum tentu berlaku di wilayah lain); belum diuji hubungan dengan variabel lain (misalnya prestasi atau kesejahteraan psikologis); belum diuji stabilitas waktu (apakah hasil sama jika diulang beberapa minggu kemudian); serta hanya berfokus pada teknis analisis, belum menjelaskan cara interpretasi skor untuk guru atau konselor.
Novelty:
- Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Muwakhidah et al. (2023) berfokus pada skala resiliensi Akademik untuk siswa SMP dan SMA se-Surabaya namun hanya diuji pada siswa di Surabaya (lingkup terbatas) sehingga generalizability ke daerah lain rendah.
- Penelitian yang dilakukan oleh Kumalasari et al. (2020) berfokus pada adaptasi ARS-30 (Academic Resilience Scale) ke Bahasa Indonesia namun hanya menggunakan analisis faktor (EFA & CFA), tidak melibatkan Rasch Model.
- Herdiansyah & Fauziah (2023) melakukan penelitian yang berfokus pada pengembangan instrumen resiliensi akademik untuk siswa SMP namun sampelnya kecil (84 siswa), sehingga daya uji Rasch kurang kuat.
- Oktaningrum & Santhoso (2019) juga melakukan penelitian yang berfokus pada hubungan antara efikasi diri akademik dan resiliensi siswa asrama SMA di Magelang namun penelitiannya korelasional, tidak fokus pada validasi instrumen.
Untuk artikel bisa diakses melalui link berikut:
⇒ Click Here ⇐
Demikian sharing saya terkait Novelty dan Analisis Kritis Artikel pada kali ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini 🙏
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar