Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 7): [11] Statistik 1. Cek data, validitas, reliabilitas, dan asumsi
Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
Halo semuanya, selamat datang di blog ku. 👋👋
Perkenalkan, nama saya Muhammad Fikrul Akbar Suwahyu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Pada semester ini, saya menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.
Kali ini, saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini.
Selamat membaca ya 😁
Judul Artikel:
- Tujuan: menganalisis perbedaan hasil belajar, kemampuan berpikir kreatif, dan efikasi diri peserta didik pada pelajaran fisika antara dua kelompok model pembelajaran yaitu inquiry-based virtual lab (Inquiry-VL) sebagai kelompok eksperimen dan direct instruction-based virtual lab (DI-VL) sebagai kelompok kontrol.
- Metode Penelitian: Kuantitatif dengan desain quasi-experimental (pretest-posttest nonequivalent
control group design). Populasinya terdiri dari 129 siswa kelas XI SMAN 1 Amlapura pada semester genap
tahun ajaran 2023/2024 yang terdiri dari tiga kelas dengan tingkat kemampuan setara, dan sampelnya menggunakan teknik acak sederhana (memastikan dari tiga kelas) masing-masing berjumlah 43 siswa (mempunyai peluang sama untuk dipilih). Datanya berupa hasil dari tes
prestasi belajar fisika, hasil dari tes kemampuan berpikir kreatif pada mata pelajaran fisika, dan hasil dari kuesioner efikasi diri dalam pembelajaran fisika (diukur menggunakan instrumen
yang telah diuji dan memenuhi standar validitas dan reliabilitas tes). Hasil uji instrumennya yaitu tes
hasil belajar terdiri dari 20 butir pertanyaan pilihan ganda diperluas, tes kemampuan
berpikir kreatifnya 10 butir pertanyaan esai, serta kuesioner efikasi dirinya 30 butir
pernyataan (positif/negatif). Pengujian hipotesisnya (data hasil belajar, kemampuan berpikir kreatif dan efikasi diri yang
telah dikumpulkan) dianalisis menggunakan Multivariate Analysis of Covariance (MANCOVA). Sebelumnya dilakukan uji asumsi
yang mencakup uji normalitas distribusi data, homogenitas varians data, linearitas dan keberartian arah
regresi antara kovariat dan variabel terikat, serta multikolinieritas antar variabel terikat. Setiap uji (termasuk uji hipotesis dan asumsi) dilakukan dengan taraf signifikansi 0,05.
u - Hasil: Berdasarkan hasil uji reliabilitas, tes hasil belajar dengan 20 butir soal pilihan ganda diperluas memiliki koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,954, yang dikategorikan sebagai reliabilitas "sangat tinggi". Tes kemampuan berpikir kreatif dengan 10 butir soal esai menunjukkan koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,822, juga dengan kategori reliabilitas "sangat tinggi". Selain itu, kuesioner efikasi diri yang terdiri dari 30 butir pernyataan memiliki koefisien Alpha Cronbach sebesar 0,902, dengan kategori reliabilitas "sangat tinggi". Hasil uji asumsi (uji normalitasnya memiliki signifikansi > 0,05 sehingga seluruh data unit analisis dinyatakan berdistribusi normal; uji homogenitas varian untuk seluruh unit analisis menunjukkan angka signifikansi Levene statistics pada based on mean > 0,05 yang berarti varian antar kelompok model pembelajaran adalah homogen; uji linearitas nilai signifikansi semua data pada deviation from linearity > 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang linier antara kovariat dengan variabel terikat; serta uji multikolinearitasnya yaitu nilai toleransi > 0,10 sehingga nilai VIF < 10, hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi efek kolinearitas antar variabel terikat dalam model regresi). Hasil uji hipotesis penelitiannya (yang menggunakan statistik MANCOVA), didapat model pembelajaran memiliki perbedaan dampak yang signifikan terhadap hasil belajar, kemampuan berpikir kreatif, dan efikasi diri peserta didik secara simultan. Sehingga dari uji asumsi dan hipotesis tersebut terbukti bahwa kelas dengan Inquiry-Based Virtual Lab memperoleh skor rata-rata hasil belajar yang lebih tinggi secara signifikan dibanding kelas konvensional; terjadi peningkatan pada indikator fluency dan originality (menunjukkan bahwa kegiatan eksploratif di laboratorium virtual mampu mendorong kreativitas ide siswa); siswa pada kelas eksperimen menunjukkan peningkatan kepercayaan diri dalam melakukan eksperimen dan memecahkan masalah fisika; serta peningkatan efikasi diri berbanding lurus dengan peningkatan kemampuan berpikir kreatif dan hasil belajar.
- Kesimpulan: Model Inquiry-Based Virtual Lab terbukti efektif meningkatkan hasil belajar, kemampuan berpikir kreatif, dan efikasi diri peserta didik dalam pembelajaran fisika; integrasi teknologi laboratorium virtual dengan pendekatan inkuiri memungkinkan siswa belajar aktif, bereksperimen mandiri, dan mengembangkan keyakinan diri dalam memahami konsep fisika; serta model ini dapat dijadikan alternatif pembelajaran di sekolah dengan keterbatasan laboratorium fisik atau peralatan eksperimen.
- Kelebihan dan Kekurangan Penelitian: Kelebihan pada artikel ini yaitu menggabungkan pendekatan inquiry-based learning dengan teknologi virtual lab, sesuai tuntutan pembelajaran abad 21 dan digitalisasi pendidikan; tidak hanya menilai hasil kognitif, tetapi juga aspek afektif (efikasi diri) dan keterampilan berpikir tingkat tinggi (berpikir kreatif); mampu menunjukkan efek perlakuan secara empiris tanpa mengganggu sistem kelas yang sudah ada; serta memberi solusi bagi sekolah yang minim fasilitas laboratorium fisika. Sedangkan kekurangannya yaitu sampel terbatas pada satu sekolah, sehingga belum menggambarkan populasi luas; pembelajaran dilakukan hanya dalam beberapa pertemuan sehingga efek jangka panjang belum diuji; efikasi diri bisa dipengaruhi oleh pengalaman belajar di luar intervensi, tetapi tidak dikontrol; serta validitas dan reliabilitas instrumennya hanya diuji dengan analisis klasik.
Novelty:
Penelitian sebelumnya (Ratu et al., 2021) berfokus pada pengaruh model Project-Based Learning (PjBL) terhadap efikasi diri dan kemampuan berpikir kritis siswa namun belum melibatkan konteks pembelajaran eksperimen dan belum memanfaatkan media digital seperti virtual laboratory sehingga eksplorasi konsep fisika masih terbatas pada kegiatan berbasis proyek tanpa pengalaman praktikum langsung. Penelitian lain (Nosela et al., 2021) berfokus pada menganalisis pengaruh Level of Inquiry dengan media Virtual Lab terhadap keterampilan proses sains siswa SMA namun masih terbatas pada aspek psikomotorik dan belum mengukur kemampuan berpikir kreatif maupun efikasi diri siswa. Penelitian lain (Dalu et al., 2022) berfokus pada menilai pengaruh virtual laboratory terhadap hasil belajar fisika siswa SMA pada materi gelombang bunyi dan cahaya namun hanya berfokus pada ranah kognitif tanpa mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi maupun aspek afektif seperti efikasi diri serta model pembelajaran yang digunakan masih bersifat konvensional dan belum menekankan pendekatan ilmiah berbasis inkuiri yang mendorong kemandirian dan kreativitas belajar peserta didik. Dengan demikian, diperlukannya penelitian yang mengintegrasikan pendekatan pembelajaran berbasis inkuiri dengan media laboratorium virtual untuk mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, efikasi diri, dan hasil belajar peserta didik secara terpadu. Artikel ini hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan mengombinasikan kekuatan inquiry-based learning yang menekankan eksplorasi, penemuan konsep, dan pemecahan masalah ilmiah dengan dukungan virtual laboratory yang interaktif. Melalui model ini, diharapkan peserta didik dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih aktif, kreatif, dan percaya diri dalam memahami konsep-konsep fisika secara mendalam serta relevan dengan pembelajaran abad ke-21.
Untuk artikel bisa diakses melalui link berikut :
⇒ Click Here ⇐
Demikian sharing saya terkait Novelty dan Analisis Kritis Artikel pada kali ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.
Terima kasih telah berkunjung ke blog ini 🙏
Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Komentar
Posting Komentar