Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 6): [10] Penelitian KUANTITATIF: berbagai desain penelitian eksperimen

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Halo semuanya, selamat datang di blog ku. 👋👋

Perkenalkan, nama saya Muhammad Fikrul Akbar Suwahyu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Pada semester ini, saya menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.

Kali ini, saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini.

Selamat membaca ya 😁


Judul Artikel:

"Penggunaan Chatbot Mela terhadap Peningkatan Kemampuan Kosa Kata Bahasa Indonesia Anak"

Analisis Kritis Artikel:
  1. TujuanMenguji efektivitas penggunaan Chatbot Mela dalam meningkatkan kemampuan kosa kata Bahasa Indonesia pada anak-anak, khususnya pada jenjang usia dini atau sekolah dasar.
  2. Metode Penelitian: Pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen (kelompok eksperimennya menggunakan Chatbot Mela dan kelompok kontrolnya hanya menggunakan metode konvensional). Populasinya adalah Siswa 
    kelas B RA Darul Mu’minin yang berjumlah 20 siswa, sampelnya 20 siswa. Pengambilan sampel menggunakan non probably sampling (kurang dari 100 orang) sehingga jumlah sampelnya sama dengan jumlah populasi. Pengumpulan data dalam penelitian ini adalah melakukan observasi dan wawancara guru melalui angket. Analisis datanya menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test (nilai probabilitas p < 0,05).
    u

  3. Hasil: Nilai minimum pretest hanya mencapai angka nilai 60 sedangkan nilai minimum posttest mencapai angka nilai 85. Begitu juga dengan nilai maksimum pretest yang hanya mencapai angka 85 sedangkan nilai minimum posttest mencapai angka 95 (kemampuan kosa kata bahasa Indonesia mengalami peningkatan). Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Testnya (Z) yaitu -3,948 dan hipotesisnya yaitu H0 ditolak dan H1 diterima (lebih kecil dari 0,05). Artinya, anak-anak yang belajar dengan chatbot mengalami peningkatan skor rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain peningkatan hasil belajar, penelitian juga menemukan bahwa anak-anak menunjukkan antusiasme dan motivasi belajar yang lebih tinggi karena interaksi dengan chatbot bersifat komunikatif dan menarik. 
  4. Kesimpulan: Chatbot Mela efektif sebagai media pembelajaran kosa kata Bahasa Indonesia bagi anak-anak, terutama karena kemampuannya menggabungkan interaktivitas teknologi dengan pembelajaran berbasis konteks bahasa. Selain itu, chatbot juga mendukung keterlibatan aktif, konsistensi latihan, dan pembelajaran mandiri yang menyenangkan.
  5. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian: Kelebihan pada artikel ini yaitu salah satu penelitian awal yang menerapkan chatbot untuk penguasaan Bahasa Indonesia anak (bukan bahasa asing); menggunakan pendekatan eksperimen kuantitatif yang mampu menunjukkan bukti empiris peningkatan hasil belajar; menerapkan teknologi AI berbasis percakapan yang relevan dengan pembelajaran era digital; serta mengkaji reaksi afektif dan motivasional anak sebagai aspek penting dalam efektivitas media pembelajaran. Sedangkan kekurangannya yaitu jumlah sampelnya masih terbatas sehingga generalisasi hasil penelitian belum luas; efektivitas jangka panjang belum diukur (apakah peningkatan kosa kata bertahan setelah beberapa minggu atau bulan); variabel kontrol eksternal (seperti dukungan orang tua dan lingkungan belajar di rumah) belum sepenuhnya dikendalikan; serta tidak ada perbandingan dengan jenis chatbot lain atau media digital lain seperti game edukatif.

Novelty:

Beberapa penelitian terdahulu tentang Chatbot (Ramdhani et al., 2024; Irmawati et al., 2025; dan Luckyardi et al., 2024) telah menunjukkan bahwa chatbot efektif dalam membantu siswa menguasai kosa kata. Namun, semua penelitian tersebut masih terbatas pada konteks bahasa asing (Inggris) dan pada tingkat pendidikan menengahDengan demikian, diperlukannya penelitian yang mengkaji efektivitas chatbot dalam konteks bahasa dan usia yang lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran anak Indonesia (selain bahasa Inggris). Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan chatbot AI yang dikembangkan khusus untuk konteks pembelajaran Bahasa Indonesia anak-anak, bukan sekadar adaptasi dari chatbot bahasa asing. Selain itu, penelitian ini menggabungkan pendekatan eksperimen kuantitatif dengan konteks pembelajaran berbasis budaya dan bahasa lokal, sehingga menjadi langkah baru dalam inovasi media digital pendidikan dasar di Indonesia.

Untuk artikel bisa diakses melalui link berikut :

⇒ Click Here ⇐


Demikian sharing saya terkait Novelty dan Analisis Kritis Artikel pada kali ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini 🙏 

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 3): [3] Pemilihan Masalah Penelitian, dan Pertanyaan Penelitian

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 2): [1] Hakekat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme)

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 3): [4] Etika Dalam Penelitian, dan Kegunaan Kajian Pustaka beserta Cara Mensintesanya