Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 14): [17] Statistik 7: Analisis Varian (MANOVA) dan non parametrik yang relevan2)

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Halo semuanya, selamat datang di blog ku. 👋👋

Perkenalkan, nama saya Muhammad Fikrul Akbar Suwahyu, mahasiswa S2 Pendidikan Fisika Universitas Negeri Malang. Pada semester ini, saya menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian Kuantitatif.

Kali ini, saya ingin share mengenai deskripsi Novelty dan Analisis Kritis Artikel di blog ini.

Selamat membaca ya 😁


Judul Artikel:

"Assessing students conceptions of learning in physics: a cross-sectional survey study"

Analisis Kritis Artikel:
  1. Tujuan: Mengidentifikasi berbagai bentuk konsepsi belajar yang dimiliki siswa, seperti belajar sebagai menghafal, belajar sebagai menghitung, belajar sebagai memahami konsep, belajar sebagai mengaplikasikan pengetahuan, serta belajar sebagai perubahan cara pandang. Selain itu, penelitian ini ingin melihat bagaimana konsepsi-konsepsi tersebut berbeda pada siswa di jenjang pendidikan yang berbeda melalui pendekatan survei lintas jenjang (cross-sectional survey).
  2. Metode Penelitian: Kuantitatif dengan desain cross-sectional survey. Ini menggunakan probability sampling untuk mendapatkan 239 partisipan yang terdiri dari 108 laki-laki dan 131 perempuan serta 198 siswa sekolah menengah dan 41 mahasiswa di Kota Debre Markos, Etiopia. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen Konsepsi Pembelajaran Fisika (Conceptions of Learning Physics (COLP)) yang terdiri dari 31 item (terdiri dari 6 faktor yaitu Memorizing (M), Preparing for Exams (T), Calculating and practicing (CP), increasing one’s knowledge (IK), Applying (A), and Understanding and Seeing in a New Way (US)) yang sudah dianalisis reliabilitasnya menggunakan CFA (Confirmatory Factor Analysis) yang bersamaan dengan analisis reliabilitas Cronbach's Alpha. Hasil CFA menunjukkan bahwa masing-masing 31 item tersebut signifikansinya pada tingkat 0,05 serta GFI (Goodness of Fit Index) bernilai 0,91, CFI (Comparative Fit Index) bernilai 0,96, dan NFI (Normed Fit Index) bernilai 0,98 (sangat tinggi). Hasil reliabilitas Cronbach's Alpha pada 31 item COLP bernilai 0,89 yang berarti reliabilitasnya cukup tinggi untuk 6 faktor tersebut dalam mengevaluasi konsepsi siswa dan mahasiswa dalam mempelajari fisika. Data penelitian dari instrumen pertama-tama dilakukan asumsi normalitas dan homogenitas varians, dan hasilnya memenuhi syarat. Oleh karena itu, analisis datanya menggunakan statistik deskriptif, uji-t sampel independen, dan MANOVA. 



  3. Hasil: Siswa dan mahasiswa memiliki ragam konsepsi belajar fisika yang berbeda-beda. Pada jenjang pendidikan lebih rendah, konsepsi belajar cenderung berpusat pada hafalan, pengerjaan soal, dan penguasaan rumus. Seiring meningkatnya jenjang pendidikan, semakin banyak siswa yang memahami belajar fisika sebagai proses membangun pemahaman konsep dan melihat fenomena dengan cara pandang baru. Penelitian juga menemukan bahwa beberapa dimensi konsepsi berkorelasi satu sama lain, misalnya antara pemahaman konsep dengan perubahan cara pandang, serta antara hafalan dengan orientasi pada performa tes.
  4. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa konsepsi belajar fisika berkembang secara bertahap sesuai dengan pengalaman belajar siswa. Kecenderungan siswa untuk memahami belajar sebagai aktivitas mekanistik menandakan perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih berorientasi pada makna dan pemahaman konsep. Penelitian ini menegaskan pentingnya memahami bagaimana siswa memaknai proses belajar fisika agar pengajar dapat menyiapkan strategi pembelajaran yang lebih tepat sasaran.
  5. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian: Kelebihan pada artikel ini terletak pada penggunaan instrumen yang telah tervalidasi dengan baik dan telah digunakan secara luas dalam penelitian internasional. Penggunaan desain cross-sectional survey juga memberikan gambaran yang komprehensif mengenai perubahan konsepsi pada berbagai tingkat pendidikan. Analisis statistik yang digunakan memberikan dasar empiris yang kuat untuk memahami struktur konsepsi belajar fisika. Sedangkan kekurangannya yaitu hanya berfokus pada persepsi siswa yang membuat data penelitian rentan terhadap bias subjektif. Desain cross-sectional survey hanya membandingkan kelompok pada satu waktu, sehingga tidak dapat memastikan bagaimana konsepsi berkembang secara longitudinal. Selain itu, penelitian ini tidak mengeksplorasi pengaruh faktor eksternal seperti strategi pengajaran, dukungan belajar, atau kurikulum yang mungkin berkontribusi terhadap terbentuknya konsepsi belajar.

Novelty:

Penelitian sebelumnya (Tsai, 2004) berfokus pada eksplorasi konsepsi siswa tentang belajar sains menggunakan pendekatan fenomenografi. Peneliti mengidentifikasi bahwa siswa memahami belajar sains dalam berbagai bentuk, mulai dari menghafal, meningkatkan pengetahuan, hingga memahami konsep secara mendalam. Fokus penelitiannya terletak pada pemetaan variasi pengalaman belajar siswa dan bagaimana mereka menafsirkan makna “belajar sains”. Namun cakupannya masih umum pada konteks sains (bukan fisika secara khusus) sehingga tidak menangkap karakteristik unik fisika sebagai disiplin yang menuntut pemodelan matematis, abstraksi, dan representasi konsep yang khas. Selain itu, analisisnya bersifat kualitatif sehingga tidak memberikan pemetaan kuantitatif yang dapat digunakan untuk melihat pola hubungan antar dimensi konsepsi. Penelitian lain (Lee et al., 2007) berfokus pada hubungan antara konsepsi belajar siswa dan pendekatan belajar mereka, serta menggunakan analisis persamaan struktural untuk melihat keterkaitan antar variabel. Penelitian ini memberikan gambaran hubungan antara konsep belajar, strategi belajar, dan keyakinan siswa terhadap pembelajaran sains. Namun penelitian ini masih berada pada konteks sains secara umum dan tidak menggambarkan dinamika pembelajaran fisika secara spesifik. Selain itu, sampel penelitian terbatas pada jenjang sekolah menengah, sehingga tidak dapat memberikan gambaran perkembangan konsepsi pada jenjang lain seperti universitas. Penelitian ini juga tidak menyoroti perbedaan konsepsi berdasarkan perkembangan pendidikan secara lintas jenjang. Sementara itu, Tsai et al. (2011) dalam penelitiannya berfokus pada hubungan antara keyakinan epistemik sains, konsepsi belajar sains, dan efikasi diri siswa dalam belajar sains. Fokus utamanya adalah bagaimana keyakinan siswa mengenai hakikat pengetahuan sains memengaruhi cara mereka memandang belajar dan kemampuan diri dalam pembelajaran sains. Kekurangan penelitian ini adalah fokus pada hubungan konseptual, bukan pemetaan struktur konsepsi belajar itu sendiri. Selain itu, seperti studi-studi sebelumnya, penelitian ini tidak membedakan karakteristik pembelajaran fisika yang lebih abstrak dan matematis dibanding bidang sains lainnya. Penelitian ini juga tidak membandingkan perbedaan konsepsi belajar antar jenjang pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang lebih terfokus pada pemahaman bagaimana siswa mengonseptualisasikan belajar fisika secara spesifik, yang mampu menggambarkan perbedaan konsepsi antar jenjang pendidikan, serta memberikan dasar empiris yang lebih kuat untuk memahami perkembangan kognitif siswa dalam konteks pembelajaran fisika. Artikel ini hadir untuk mengisi celah tersebut melalui pemetaan kuantitatif, fokus khusus pada fisika, serta desain lintas jenjang yang memberikan gambaran perkembangan konsepsi belajar.

Untuk artikel bisa diakses melalui link berikut :

⇒ Click Here ⇐


Demikian sharing saya terkait Novelty dan Analisis Kritis Artikel pada kali ini. Semoga bermanfaat bagi para pembaca sekalian, dan mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan.

Terima kasih telah berkunjung ke blog ini 🙏 

Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 3): [3] Pemilihan Masalah Penelitian, dan Pertanyaan Penelitian

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 2): [1] Hakekat penelitian pendidikan: Peran penelitian pendidikan, isu-isu epistemologi dalam penelitian pendidikan: modernism (positivisme) dan posmodernism (post-positivisme)

Metodologi Penelitian Kuantitatif (Pertemuan 3): [4] Etika Dalam Penelitian, dan Kegunaan Kajian Pustaka beserta Cara Mensintesanya